• All
  • Seni Budaya
  • Gosip
  • Hukum dan Kriminal

Tampilkan postingan dengan label Seni Budaya. Tampilkan semua postingan

gravatar

Warga Manding Kirab Hasil Industri Kerajinan




BANTUL, TRIBUN – Warga Dusun Manding, Desa Sabdodadi, Kecamatan Bantul, menggelar kirab kerajinan hasil industri kreatif yang diproduksi oleh para perajin di daerah setempat, Minggu (13/10).

Berbagai hasil kerajinan yang terbuat dari kulit seperti jaket, sepatu, sandal, tas, dan produk lainnya dibentuk gunungan dan dikirab dengan berjalan kaki keliling kampung mulai dari rumah Kepala Dusun hingga tempat acara atau tengah kampong sejauh sekitar empat kilometer.

Kemudian di tempat acara ini, beberapa gunungan hasil kerajinan dan gunungan hasil pertanian serta makanan tradisional berencana didoakan bersama supaya ke depan kesejahteraan masyarakat meningkat.

Akan tetapi sebelum didoakan, masyarakat yang sudah tak sabar menanti, langsung merebut seluruh isi gunungan tanpa tersisa. Bahkan karena banyaknya orang yang saling berebut, beberapa orang hanya mendapat sepatu sebelah kiri tanpa ada pasangannya.

Ketua Pelaksana Merti Dusun Manding, Dwijo Hadi S menjelaskan, kirab hasil kerajinan dan hasil pertanian ini merupakan sebagai bentuk kegiatan promosi pada wisatawan dan masyarakat luar daerah.

“Tujuannya tak lain adalah agar bisa menarik wisatawan untuk datang dan membeli hasil kerajinan dari masyarakat Manding,” katanya saat ditemui di sela acara.

Di Dusun Manding, terdapat 12 RT yang mayoritas warganya berpfofesi sebagai perajin kulit, plastik, dan pedagang kuliner. Pada kirab yang sudah digelar untuk kedua kalinya sejak 2010 lalu, masing-masing dusun menampilkan hasil kerajinan andalan untuk diikutkan dalam kirab.

“Kami ingin meneguhkan bahwa Manding adalah pusat wisata budaya, kerajinan, dan kuliner di Bantul,” kata Dwijo.

Seorang wisatawan asal Palembang, Nurma (33), yang kebetulan sedang berwisata ke Yogyakarta dan singgah di Manding, mengaku penasaran dengan kerajinan yang dikirab keliling dusun ini. Dia sendiri tampak memerhatikan setiap gunungan yang dibawa para pemuda dusun.

“Adanya kirab kerajinan ini malah membuat saya penasaran. Ingin sekali melihat cara memproduksinya, sekaligus nanti kalau harganya cocok mau dibuat oleh-oleh,” katanya.(had)
Baca Selanjutnya
gravatar

Air Jernih dan Jembatan Gantung Menjadi Magnet Sungai Oya



Sejak lima tahun terakhir jembatan gantung yang membentang di Sungai Oya dan menghubungkan antara Dusun Wunut, Desa Sriharjo, dengan Dusun Jetis, Desa Selopamioro, Kecamatan Imogiri, Bantul, menjadi daya tarik masyarakat untuk berlibur.

Setiap hari rata-rata sekitar 100 orang berkunjung di tempat ini. Bahkan saat akhir pekan, yakni Sabtu-Minggu tak kurang dari 500 orang datang dengan mengendarai sepeda motor dan mobil pribadi.

Jembatan gantung yang dibangun sejak tahun 2002 dengan panjang 90 meter dan tinggi dari dasar sungai sekitar 40 meter itu, menarik masyarakat untuk sekadar berfoto dengan latar belakang bukit-bukit berbatu.

Selain itu, yang menambah daya tarik adalah aliran Sungai Oya. Air yang jernih dengan arus yang tenang serta dasar sungai berupa batu kerikil dan pasir, memikat pengunjung untuk bermain air hingga berenang. Ditambah banyaknya pepohonan di sisi sungai, semakin nyaman untuk berteduh sambil bermain air.

Dari pengamatan Tribun Jogja pada Senin (14/10) kemarin, tampak pengunjung mulai usia balita hingga dewasa sedang asik bermain air. Para balita bermain air dan batu sambil ditemani orangtuanya, sedangkan para remaja hingga dewasa terlihat berenang ke tengah sungai.

Menurut Bunadi (42), warga Dusun Wunut yang setiap hari berprofesi sebagai pengelola parkir di tempat tersebut, di sungai dengan kedalaman mulai setengah meter hingga empat meter ini, memang banyak dikunjungi masyarakat dalam lima tahun ini.

"Biasanya mereka berfoto di jembatan gantung dan mandi di sungai. Ada juga yang kadang sampai mendirikan kemah di pinggir sungai," katanya.

Kawasan ini sampai saat ini memang belum ada yang mengelola, entah dari warga sekitar, pihak pemerintah desa, maupun swasta. Sehingga pengunjung yang datang cukup membayar parkir Rp 1.000 untuk sepeda motor dan Rp 2.000 untuk mobil.

"Fasilitas di sekitar sini paling baru ada satu warung dan beberapa homestay milik warga," ujarnya.

Menurutnya, kawasan ini lebih cocok dimanfaatkan untuk bumi perkemahan. Selain lokasinya yang berjarak sekitar tujuh kilometer dari pusat Kecamatan Imogiri dan Pasar Imogiri, tanah di sekitar sungai relatif lebih rata.

"Dahulu malah pernah ada mahasiswa dari kampus di Yogya yang ingin berkemah di sini. Tapi dengan jumlah peserta sebanyak 1.500 orang tidak ada tempatnya, jadi kami dari warga belum bisa menerima," ungkapnya.

Saat ini, selain sering dikunjungi wisatawan domestik dari Sleman, Wonosari, dan Bantul sendiri, juga lebih sering dimanfaatkan untuk kegiatan foto model dan foto prewedding, bahkan beberapa waktu lalu sempat dijadikan shooting iklan produk kopi.

Nuruddin (20) pengunjung asal Mlati, Sleman, yang juga mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri di Yogyakarta, datang bersama puluhan teman kuliahnya dengan mengendarai sepeda motor. Dirinya memang baru pertama kali datang ke tempat ini.

“Awalnya sih saya diceritain sama temen-temen kuliah kalau di sini bisa berenang airnya bersih  dan pemandangannya bagus. Nah mumpung hari ini libur, kita ramai-ramai datang ke sini sekalian mandi,” ujarnya. huda
Baca Selanjutnya
gravatar

Ribuan Warga Parangtritis Salat Id di Gumuk Pasir Parangkusumo





BANTUL, TRIBUN - Ribuan warga Desa Parangtritis, Kecamatan Kretek, Kabupaten Bantul, laki-laki maupun perempuan baik anak-anak hingga orang tua, melaksanakan salat Idul Adha di kawasan Gumuk Pasir Pantai Parangkusumo, Selasa (15/10).

Sejak pukul 05.30, mereka berbondong-bondong datang dengan berjalan kaki, mengendarai sepeda motor, mobil pribadi, dan bus. Di lokasi gumuk pasir, pada tempat yang rata dan luas, panitia telah menyiapkan garis lurus sebagai saf.

Jemaah yang datang, membawa tikar dan menatanya sesuai garis tersebut. Tepat pukul 06.40, salat Id pun dilaksanakan.

Pihak panitia menyatat, dalam pelaksanaan salat jemaah kali ini diikuti oleh sebanyak 3.563 orang yang terdiri dari 1.706 laki-laki dan 1.857 perempuan. Sedangkan uang infak yang terkumpul ada sebanyak Rp 19 juta.

Seorang jemaah, Sugiman, warga Dusun Kretek, Desa Parangtritis, Kecamatan Kretek, saat ditemui usai mengikuti salat, mengungkapkan, ia setiap tahun selalu ikut berjamaah di lokasi tersebut, baik saat Idul Fitri maupun Idul Adha.

Selain sudah menjadi tradisi yang sudah bertahun-tahun, menurutnya ada kesan tersendiri saat salat di gumuk pasir.

“Rasanya itu seperti di padang pasir Arab Saudi, jadi rasanya bisa lebih dekat dengan kabah dan bisa lebih khusuk,” ujar laki-laki berkumis ini. Ia sendiri datang bersama warga satu kampungnya dengan menaiki bus.


Namun dari ribuan yang datang, ada juga yang sekaligus ingin berwisata di pantai selatan. Edy Purnomo, pengunjung asal Banyudono Boyolali ini misalnya, ia datang bersama keluarganya dan mengikuti salat Id. Usai mengikuti salat berjemaah, selanjutnya berwisata di pantai.

“Bagi saya niat utamanya ya ibadah, selanjutnya sekalian ingin rekreasi di pantai,” katanya.

Kepala Desa Parangtritis, Topo mengtakan, pelaksanaan salat Id bersama di lokasi yang biasanya juga dipergunakan untuk kegiatan manasik haji dengan luas dua hectare ini, sudah berlangsung selama 20 tahun ini. Saat idul fitri, jumlah jemaah bisa mencapai lebih dari 5.000 orang.

“Dahulu dilaksanakan di lapangan Parangkusumo, tapi akhirnya disepakati untuk dipindah kea rah barat atau di gumuk pasir. Masa kita salat kanan kirinya ada PSK (pekerja seks komersil) kan tidak etis lah,” kata Topo.

Di desa ini, selain melaksanakan salat Id berjamaah, pelaksanaan penyembelihan hewan kurban juga dikelola menjadi satu kepanitiaan. Tercatat ada sebanyak 77 sapi kurban dan 60 kambing kurban.(had)


Baca Selanjutnya
gravatar

Warga Pesisir Laut Selatan Membedah Muara Sungai Opak

BANTUL, TRIBUN – Ratusan warga dari dua Kecamatan yakni Kecamatan Kretek dan Sanden Kabupaten Bantul  membedah atau menyudet kendangan di muara Sungai Opak, Sabtu (12/10). Pasalnya, muara telah tertutup pasir yang terbawa ombak laut selatan.

Warga dibantu ratusan relawan dari berbagai daerah di Yogyakarta, menggali tumpukan pasir sepanjang sekitar 50 meter menggunakan cangkul dan sekop. Galian tersebut kemudian dihubungkan antara Sungai Opak dengan laut atau membuat muara baru.

"Muara yang ada saat ini telah tertutup pasir yang terbawa ombak besar beberapa waktu terakhir. Sehingga airnya meluap ke lahan pertanian," ujar seorang warga Pantai Samas, Mardi Prayitno (53).

Menurutnya, muara baru yang dibuat warga ini dahulu adalah muara yang asli. Namun karena derasnya ombak yang membawa pasir laut secara terus menerus, menjadikan muara asli itu membuat jalur baru ke arah barat.

"Tapi karena adanya fenomena alam, muara baru kembali tertutup pasir. Sehingga warga memutuskan supaya Sungai Opak dialirkan melalui muara yang asli biar tidak berbelok lagi," katanya.

Kepala Badan Penanggulangan bencana Daerah (BPBD) Bantul, Dwi Daryanto mengatakan, penyudetan tersebut sesuai permintaan warga supaya air laut yang menggenangi lahan pertanian dapat surut.

Pihaknya juga telah melakukan koordinasi dengan Balai Besar Wilayah Serayu Opak (BBWSO) untuk mendatangkan alat berat ke lokasi pada Sabtu siang.

"Satu alat berat telah kita datangkan untuk membuat muara baru dari Sungai Opak. Penggalian dimulai hari ini (kemarin) sampai selesai," katanya.

Sementara Sekda Bantul, Riyantono yang meninjau lokasi mengungkapkan, permasalahan muara yang selalu tertutup pasir merupakan proses alamiah. Sehingga penanganannya dibutuhkan rekayasa teknologi untuk jangka panjang.

"Tapi anggarannya memang besar. Adanya anggaran dana tak terduga sebesar Rp 4,5 miliar saja tidak cukup. Dana itu hanya cukup untuk penanganan yang bersifat insidentil," katanya.(had)




Baca Selanjutnya
gravatar

Semaren Sumber Mata Air Terbesar Di Magelang






Mata air Semaren, merupakan sumber mata air jenis Artesis, yakni air yang keluar dari dalam tanah. Mata air yang berada di Dusun Semaren, Desa Sawangan, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang ini, merupakan mata air terbesar yang berada di Magelang.

Mata air yang berada di antara lereng gunung Merbabu dan Merapi tersebut, sejak tahun 1987 telah dimanfaatkan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Gemilang, untuk menyalurkan air bersih bagi masyarakat Magelang.

Setidaknya empat kecamatan yakni Muntilan, Mungkid, Mertoyudan, dan Candimulyo mengandalkan air dari sumber tersebut, karena mata air ini adalah satu-satunya sumber yang ada. Bahkan mata air Semaren ini adalah satu-satunya mata air terbesar dari 54 mata air yang ada di wilayah Kabupaten Magelang, yang dimanfaatkan oleh PDAM.

“Semaren adalah satu-satunya sumber mata air untuk kawasan tersebut (Muntilan, Mungkid, Mertoyudan, dan Candimulyo). Apabila sumber itu mati, maka semuanya akan berhenti. Dan ini adalah sumber mata air yang terbesar di Magelang, sehingga ini menjadi mata air utama,” kata staf Bagian Transmisi Distribusi Sub Unit Muntilan, Perusahaan Daerah Air Minum Tirta Gemilang, Utomo Suryo Atmojo saat ditemui Tribun Jogja di kantornya, Selasa (29/1).

Mata air yang memiliki debit 300 liter per detik ini, dari lobang utama langsung disalurkan ke pipa menuju bak penampungan yang ada di Desa Gondosuli, Kecamatan Muntilan. Dalam bak penampungan tersebut, air diolah untuk menghilangkan zat besi menjadi air bersih layak konsumsi, serta mengatur tekanan air yang menuju ke pengguna.

Sedangkan limpahan dari sumber utama, dilimpahkan melalui kolam yang berada di sampingnya lalu dilimpahkan ke Sungai Mangu yang berhilir ke Sungai Elo. Di kolam tersebut, oleh masyarakat dimanfaatkan untuk mandi dan berenang. Bahkan para santri dari Pon-Pes Gontor VI, juga memanfaatkannya untuk mandi. Sementara air yang mengalir melalui Sungai Mangu dimanfaatkan untuk pengairan pertanian.

Pada saat bencana erupsi Gunung Merapi akhir tahun 2010 lalu, kata Utomo, meskipun sumber ini juga cukup dekat dengan puncak merapi dan sempat terselimuti abu vulkanik yang cukup tebal, namun debit tidak terpengaruh sama sekali. Karena sumber resapan utama dari gunung Merbabu meskipun juga ada sebagian dari Merapi.

Pada saat banjir lahar dingin melintas sungai Pabelan tahun lalu, pipa-pipa milik PDAM yang menjadi penyalur dari sumber mata air Semaren, yakni berada di Dusun Surodadi, Desa Gondowangi, Kecamatan Sawangan, juga putus diterjang lahar. Bahkan, pipa berukuran 10 inc tersebut harus disambung kembali hingga sebanyak lima kali.

“Meskipun saat ini sudah normal namun apabila ada banjir lahar yang besar dan mengikis pondasi penyangga pipa, maka bisa dipastikan akan kembali terputus,” ujarnya.

Untuk melestarikan sumber cadangan air di sekitarnya, upaya pelestarian alam selalu dilakukan. Caranya adalah dengan penanaman bibit pohon di sekitaran Semaren dengan menjadikannya sebagai program tahunan, baik dari PDAM sendiri maupun dari Pemerintah Daerah.

Petugas penjaga mata air Semaren, Winarno (40) mengatakan, pada hari-hari tertentu banyak masyarakat luar daerah yang menggelar ritual di sekitar sumber tersebut.

“Orang luar malah banyak, tapi kalau masyarakat setempat sekarang sudah tidak ada,” ujarnya.

Baca Selanjutnya
gravatar

Makna Filosofi Tembang lir Ilir



Sunan Kalijaga
Lir-ilir, Lir Ilir 

Tandure wus sumilir 
Tak ijo royo-royo 
Tak sengguh temanten anyar

Cah Angon, Cah Angon 
Penekno Blimbing Kuwi 
Lunyu-lunyu penekno 
Kanggo Mbasuh Dodotiro

Dodotiro Dodotiro 
Kumitir Bedah ing pinggir 
Dondomono, Jlumatono 
Kanggo Sebo Mengko sore

Mumpung Padhang Rembulane 
Mumpung Jembar Kalangane 
Yo surako surak Iyo.

Kurang lebih artinya seperti ini:

(Ilir-ilir,
ilir-ilir…
tanamannya sudah berkembang/bersemi..
tampak menghijau ibarat pengantin baru..

anak gembala,
anak gembala..
panjatlah blimbing itu..
meski licin panjatlah, buat mencuci kain

kain,
kain…
yang sedang robek pinggirnya..
jahitlah dan tamballah untuk menghadap nanti sore..
semampang bulan terang-benderang
semampang lebar tempatnya…)



Makna Tersirat :

Ayo bangkit Islam telah lahir,

Hijau sebagai simbol agama islam kemunculannya begitu menarik ibarat pengantin baru,

Pemimpin yang mengembala rakyat kenalah islam sebagai agamamu,

Ia ibarat belimbing dengan lima sisi sebagai lima rukun Islam,

Meskipun sulit dan banyak rintangan sebarkanlah ke masyarakat dan anutlah,

Guna untuk mensucikan diri dari segala dosa dan mensucikan aqidah,

Terapkanlah islam secara kaffah sampai ke rakyat kecil (pinggiran),

Perbaikilah apa yang telah menyimpang dari ajaran Islam untuk dirimu dan orang lain guna bekal kamu di akhirat kelak,

Mumpung masih hidup dan selagi masih diberikan kesempatan untuk bertobat,

Dan berbahagialah semoga selalu dirahmati Allah



Lagu “ilir-ilir” sangat familiar kalau di lingkungan pesantren. Kaset lagu seperti itu -lagu sholawat berlanggam Jawa dengan diiringi gending/gamelan- sangat mudah ditemukan di sekitar Mesjid Sunan Ampel (Surabaya), area pemakanan Sunan Giri (Gresik), dan area pemakaman Sunan Bonang (Tuban).

Di era 90-an, lagu ini dipopulerkan kembali oleh Cak Nun (Emha Ainun Nadjib) dengan aransemen musik Kyai Kanjeng. Jika diamati musiknya, lagu Jawa tersebut sangat mirip dengan lagu Arab, “Ya Toyyiba” yang kemudian diplesetkan menjadi “Bang Toyib” oleh para pedangdut komersial.

Dalam berbagai literatur sejarah, lagu ini digubah, diciptakan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga yang mengandung pesan/makna tentang asal-usul dan tujuan hidup. Memberikan rasa optimis kepada orang yang melakukan amal kebaikan demi hari akhir, karena kesempatan di dunia harus dimanfaatkan untuk berbuat kebaikan (“Sejarah Sunan Kalijaga”, Dr. Purwadi).

Tapi, saya punya asumsi lain akan makna lagu tersebut. Nyanyian yang sering dipakai oleh anak-anak kecil di kampung sewaktu bermain di bawah terangnya bulan purnama di jaman dulu kala ini bermakna filosofis yang sangat mendalam, yakni terhadap kemajuan dakwah (pengislaman masyarakat Jawa) yang dilakukan oleh Wali Songo.

Lir-ilir, lir-ilir

Lagu “Ilir-ilir” -dalam pemaknaan saya- lebih merupakan sinyalemen keberhasilan dari Sunan Kalijaga terhadap dakwah yang dilakukan oleh para wali di tanah Nusantara. ‘Ijo‘ adalah simbolisasi Islam. ‘Sumilir‘ bermakna bersemi, bersemai, sedang mekar, berkembang. ‘Temanten baru‘ bernilai cerah-ceria, ghirah, bersemangat, antusias, mendapatkan sambutan yang sangat luar biasa seperti seyogyanya kesenangan, keriangan, kegembiraan yang dialami oleh orang yang baru menikah. Jadi, paragraf pertama dari lagu “Ilir-ilir” tersebut lebih bermakna potret keberhasilan dakwah nilai-nilai Islam dalam masyarakat Jawa oleh para Wali Songo.

tembang ini diawalii dengan ilir-ilir yang artinya bangun-bangun atau bisa diartikan hiduplah (karena sejatinya tidur itu mati) bisa juga diartikan sebagai sadarlah. Tetapi yang perlu dikaji lagi, apa yang perlu untuk dibangunkan?Apa yang perlu dihidupkan? hidupnya Apa ? Ruh? kesadaran ? Pikiran? terserah kita yang penting ada sesuatu yang dihidupkan, dan jangan lupa disini ada unsur angin, berarti cara menghidupkannya ada gerak..(kita fikirkan ini)..gerak menghasilkan udara. ini adalah ajakan untuk berdzikir. Dengan berdzikir, maka ada sesuatu yang dihidupkan.

tandure wus sumilir, Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar.

Bait ini mengandung makna kalau sudah berdzikir maka disitu akan didapatkan manfaat yang dapat menghidupkan pohon yang hijau dan indah. Pohon di sini artinya adalah sesuatu yang memiliki banyak manfaat bagi kita. Pengantin baru ada yang mengartikan sebagai Raja-Raja Jawa yang baru memeluk agama Islam. Sedemikian maraknya perkembangan masyarakat untuk masuk ke agama Islam, namun taraf penyerapan dan implementasinya masih level pemula, layaknya penganten baru dalam jenjang kehidupan pernikahannya.

Cah angon cah angon penekno blimbing kuwi.

Mengapa kok “Cah angon” ? Bukan “Pak Jendral” , “Pak Presiden” atau yang lain? Mengapa dipilih “Cah angon” ? Cah angon maksudnya adalah seorang yang mampu membawa makmumnya, seorang yang mampu “menggembalakan” makmumnya dalam jalan yang benar. Lalu,kenapa “Blimbing” ? Ingat sekali lagi, bahwa blimbing berwarna hijau (ciri khas Islam) dan memiliki 5 sisi. Jadi blimbing itu adalah isyarat dari agama Islam, yang dicerminkan dari 5 sisi buah blimbing yang menggambarkan rukun Islam yang merupakan Dasar dari agama Islam. Kenapa “Penekno” ? ini adalah ajakan para wali kepada Raja-Raja tanah Jawa untuk mengambil Islam dan dan mengajak masyarakat untuk mengikuti jejak para Raja itu dalam melaksanakan Islam.

‘Bocah angon‘ bermakna para penggiat nilai-nilai Islam, juru dakwah dan simpatisannya. ‘Penekna’ berarti raihlah, dapatkan, capailah. ‘Blimbing’ memiliki bentuk bintang (lima) di ujungnya, merupakan simbolisasi Islam. ‘Lunyu-lunyu‘ berarti keadaan yang sangat sulit, tapi harus tetap dilakukan. ‘Mbasuh‘ artinya menyebarkan, mengembangkan, memperluas dakwah. ‘Dodotiro‘ makna harfiahnya kain, tapi dalam pemaknaan saya itu kekuasaan status quo (dalam hal ini Kerajaan Majapahit). Jadi, paragraf kedua ini bermakna ajakan bagi para penggiat Islam untuk menyebarkan, memperluas dakwah nilai-nilai Islam di bumi Majapahit, walaupun tantangannya sangat berat.

Lunyu lunyu penekno kanggo mbasuh dodotiro.

Walaupun dengan bersusah payah, walupun penuh rintangan, tetaplah ambil untuk membersihkan pakaian kita. Yang dimaksud pakaian adalah taqwa. Pakaian taqwa ini yang harus dibersihkan.

Dodotiro dodotiro, kumitir bedah ing pinggir.

Pakaian taqwa harus kita bersihkan, yang jelek jelek kita singkirkan, kita tinggalkan, perbaiki, rajutlah hingga menjadi pakain yang indah ”sebaik-baik pakaian adalah pakaian taqwa“.

Dodotiro, kumitir bedah ing pinggir‘, maknanya Kerajaan Majapahit sedang goyah, rapuh, mendekati keruntuhan, kehilangan kesatuan dan persatuan, lemahnya kepercayaan dari negeri-negeri bawahan. ‘Dondomana, jrumatana‘ berarti perbaikilah, masukilah dengan nilai-nilai Islam. ‘Seba mengko sore‘, maknanya demi keberhasilan menegakkan agama-agama Illahi. ‘Mumpung padhang rembulane’, berarti semampang kesempatan sangat terbuka, opurtunity bagus, dan Demak di belakang gerakan dakwah tersebut. ‘Mumpung jembar kalangane‘, bermakna semampang prospektif, potensinya sangat terbuka/sangat bagus, masyarakat welcome. Jadi, pargraf ketiga ini menjelaskan opurtunity, peluang, kesempatan secara geopolitik untuk lebih membesarkan agama Islam.

dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore.

Pesan dari para Wali bahwa suatu ketika kamu akan mati dan akan menemui Sang Maha Pencipta untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatanmu. Maka benahilah dan sempurnakanlah ke-Islamanmu agar kamu selamat pada hari pertanggungjawaban kelak.

Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane.

Para wali mengingatkan agar para penganut Islam melaksanakan hal tersebut ketika pintu hidayah masih terbuka lebar, ketika kesempatan itu masih ada di depan mata, ketika usia masih menempel pada hayat kita.

Yo surako surak hiyo.

Sambutlah seruan ini dengan sorak sorai “mari kita terapkan syariat Islam” sebagai tanda kebahagiaan. Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu (Al-Anfal :25)

So, “Ilir-ilir” secara garis besar bermakna ajakan, seruan, mobilisasi bagi para juru dakwah yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga untuk mengembangkan nilai-nilai Islam di bumi Nusantara. Boleh dibilang, “Ilir-ilir” adalah lagu politis -berbasis geopolitik- pada saat itu.
Benarkah? Wallahu’alam bi ash showab. Interpretasi, pemaknaan sejarah sah-sah saja untuk memperkaya sejarah itu sendiri.(Diambil dari http://www.facebook.com/wargaKBGD?fref=ts)




Baca Selanjutnya
gravatar

Wali Kota Ikrarkan Program Kota Sejuta Bunga

Gerebeg Gethuk Kota Magelang 2012


MAGELANG, TRIBUN - Ribuan warga Kota Magelang memadati Alun-alun untuk menyaksikan prosesi Budaya dan Gerebek Gethuk, sekaligus berebut dua gunungan gethuk yang menjadi simbol kota ini, Minggu (15/4). Prosesi tahunan yang disebut pesta rakyat ini merupakan rangkaian kegiatan peringatan hari jadi Kota Magelang yang ke 1106 tahun 2012.

Prosesi Grebeg Gethuk sendiri dimulai pukul 10.45 hingga 11.25, diawali dengan kirab oleh Wali Kota Magelang beserta jajarannya dari Masjid Kauman menuju Alun-alun. Sebelumnya, juga ditampilkan berbagai kesenian tradisional kolosal antaralain Tari Laskar Tidar, Tari Undhuk dan Orkes Klunthung Topeng Ireng.

Kemudian disambung dengan upacara peringatan hari jadi menggunakan bahasa Jawa.
Pada tahun lalu, Wali Kota beserta Forum Pimpinan Daerah (Forpimda) dikirab menggunakan kereta kencana yang disewa dari Keraton Yogyakarta, namun untuk tahun ini, prosesi tersebut diganti dengan penampilan Sendratari Mentiasih Dumadine Kutha Magelang.

Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota, Ir Sigit Widyonindito juga berikrar dan mencanangkan Kota Magelang sebagai Kota Sejuta Bunga ditandai dengan pemukulan gong. Pemukulan itu juga sekaligus membuka Gerebeg Gethuk. Dua gunungan gethuk yang telah dipersiapkan di depan panggung kehormatan, secara serentak ribuan masyarakat yang hadir langsung berebut gethuk tersebut.

Kepala Disporabudpar Kota Magelang, Edi Wahjanto, mengatakan bahwa prosesi ini memang sekaligus sebagai bentuk pencanangan kota sejuta bunga. Hal itu dapat diketahui selama prosesi, pihak panitia membagikan sekuntum bunga mawar merah kepada tamu undangan, dan seluruh pemain yang terlibat dalam prosesi ini.
“Tadi telah dibacakan Ikrar yang berisi bahwa Kota Magelang sudah mulai masuk tahapan awal atau persiapan menjadi kota sejuta bunga. Jadi mulai hari ini (kemarin_Red) juga, kita sudah mulai bersiap-siap untuk terus maju ke depan,” katanya.

Memang, untuk mencapai target program Kota Sejuta Bunga harus melalui berbagai tahapan -tahapan pembangunan, secara jelas tertuang dalam rencana strategis pada perencanaan pembangunan secara bertahap mulai 2011-2015. Tahap pertama adalah persiapan, kedua pencanangan, pada 2013 pemkot masuk tahap magelang menata dan menghias. Kemudian untuk tahapan selanjutanya, adalah magelang berkesan, sedangkan tahapan terakhir magelang menarik. Pada tahapan ini rencananya akan ada kegiatan Magelang Visit Years 2015.

Edi mengatakan, untuk mencapai program tersebut memang tidak mudah, banyak kendala yang dihadapi. Yaitu peran media massa untuk terus mensosialisasikan arti dari program tersebut. Agar bukan hanya sekadar slogan saja, tapi juga benar-benar menjadi kota yang rapi, bersih, aman dan tertib.

Ia juga menegaskan, bahwa prosesi Budaya Gerebeg Gethuk ini rencananya akan ditetapkan sebagai wisata budaya. Namun yang terpenting adalah masyarakat bisa memahami makna prosesi gerebeg itu sendiri. “Pada saat ada even international hease nanti, kita juga akan upayakan untuk mempromosikannya, dan sasaran kita adalah wisatawan asing,” katanya.

Selain Gerebeg Gethuk, pada Minggu kemarin juga digelar Batik Karnival dan Kirab Budaya. Dalam karnival tersebut, Puteri Indonesia Pariwisata 2011, Andi Tenri Hanum Utari Natassa, atau Andi Natassa didaulat menjadi ikon batik Magelangan ini. Ia memakai busana Batik Magelang dan berdiri di atas sebuah mobil  terbuka yang dihias dengan berbagai macam bunga taman, dan diikuti puluhan peragawati.

“Selama ini kan batik magelang belum begitu populer. Maka dengan menghadirkan Puteri Indonesia ini diharakan nantinya bisa dikenal masyarakat luas,” imbuh Edi Wahjanto.

Dalam proses Batik Karnival dan Kirab Budaya, nampak ribuan masyarakat Magelang memadati sepanjang Jalan yang dilalui. Peserta kirab budaya sendiri, diikuti oleh sebanyak 29 peserta  dengan jumlah total sebanyak 1.500 orang penampil. Demikian jumlah total dalam kegiatan Prosesi Budaya dan Gerebeg Gethuk yang terlibat sebanyak 2.500 seniman penampil.(had)

Mbilung Ingin Kembalikan Sejarah
Ketua Dewan Kesenian Kota Magelang, Condro Bawono atau akrab dipanggil Mbilung Sarawita mengatakan, prosesi Gerebeg Gethuk yang menghadiurkan dua gunungan gethuk itu sedikitnya menghabiskan bahan sebanyak 150 kilogram. Gunungan tersebut dibuat oleh para seniman rupa Magelang Art Potpourri, sejak Sabtu (14/4) malam.

Mbilung mengakui, bahwa konsep yang digunakan untuk prosesi gerebeg kali ini jauh berbeda dari tahun sebelumnya. Perbedaan tersebut nampak jelas terletak pada prosesi kirab kereta kencana. Namun wali kota beserta jajarannya hanya berjalan kaki dari Masjid Kauman menuju panggung kehormatan. “Sebelumnya sudah kita komunikasikan dengan Komisi C dan Ketua DPRD, semuanya telah menyetujuinya. Jadi tidak ada masalah,” katanya.

Menurutnya,  Kota Magelang dalam sejarahnya bukanlah kerajaan melainkan tanah Perdikan. Maka dengan menghilangkan prosesi kirab wali kota dengan kereta kencana adalah sebagai bentuk pengembalian sejarah. “Jadi tidak tepat wali kota berperan sebagai raja seperti tahun-tahun sebelumnya. Kita mencoba mengembalikan seperti yang dilakukan oleh pak Wali Kota Sukadi (1994-1999),” katanya.

Perbedaan lainnya adalah tidak adanya proses penancapan paku tidar oleh Syekh Subakir. Menurut Mbilung, prosesi tersebut sengaja dihilangkan dan diganti penampilan Sendratari Mentiasih yang memiliki arti Dumadine Kutha Magelang (berdirinya Kota Magelang). Ia mengaku puas dengan proses acara yang berjalan lancar dan tepat waktu.

Sementara itu, Gepeng Nugroho, seniman muda berbakat yang tahun sebelumnya menangani Gerebeg Gethuk, enggan berkomentar banyak. “Memang secara keseluruhan dan konsep pertunjukan mulai membaik dari sisi artistiknya. Tapi untuk hal sejarah, biarlah mereka beralibi,” cetusnya.

Seniman senior Magelang, Mualim M Sukethi saat ditemui di tengah alun-alun mengatakan, memang masyarakat Magelang hingga saat ini masih haus hiburan. Sehingga berbagai even besar yang digelar selalu menjadi perhatian. Adanya panggung besar di tengah alun-alun yang sebelumnya digunakan untuk penampilan Sendratari Mentiasih, alangkah baiknya seusai prosesi gerebek dimanfaatkan untuk pementasan musik anak-anak muda.

“Padahal sudah disewa mahal tapi hanya digunakan untuk pementasan saja setelah itu selesai. Kalau itu dimanfaatkan untuk penampilan komunitas-komunitas musik di Magelang hingga semalam suntuk, pasti Magelang akan terlihat semarak,” tandasnya.




Ia juga mengkritik setting tenda dan panggung yang diterapkan dalam prosesi gerebek tahun ini. Menurutnya, setting yang diterapkan dipastikan tidak akan bagus ditangkap oleh kamera. “Setting yang ada ini sangat susah apabila ingin mengambil ikon kota ini entah itu water torn maupun patung P Diponegoro,” ungkap pegiat film yang juga berprofesi sebagai sutradara di ibukota ini.(had)

Baca Selanjutnya
gravatar

Museum OHD Masuk MURI

MAGELANG, TRIBUN – Museum terbaru Oei Hong Djien (OHD), di Jalan Jenggolo Kota Magelang, telah resmi dibuka untuk khalayak umum oleh Wali Kota Magelang, Ir Sigit Widyonindito MT, Kamis (5/4). Peresmian museum ketiga ini sekaligus menyabet sertifikat Museum Rekor - Dunia Indonesia (MURI) kategori museum bekas gudang tembakau yang dijadikan sebagai museum.

Ketua MURI, Jaya Suprana yang hadir dalam grand opening museum OHD mengatakan, museum ini layak masuk rekor karena memiliki keunikan yang baru pertama ditemukan. Kategori yang diterapkan adalah kategori bekas gudang tembakau yang dibuat menjadi museum seni rupa. Gudang tembakau ini sendiri, dibangun sejak tahun 1940-an.

“Ini adalah yang pertama di Indonesia bahkan di dunia adanya gudang tembakau dijadikan sebagai museum. Selain itu juga museum seni rupa dengan koleksi terlengkap di Indonesia bahkan di dunia,” katanya.

Pendiri museum OHD, dr Oei Hong Djien mengatakan, dengan didirikannya museum ketiga ini, diharapkan ke depan menjadi pusat pembelajaran para generasi muda dalam memahami karya seni rupa Indonesia.

"Dengan adanya museum ini, saya berharap dapat menunjang sejarah seni lukis modern Indonesia. Ini bisa menjadi tempat untuk meneliti hingga belajar tentang karya-karya maestro Indonesia," katanya.

Bekas gudang tembakau ini juga tak luput dari besutan para seniman Magelang untuk melakukan pemugaran dan penataan ruang dalam museum. Museum OHD memiliki lebih dari dua ribu koleksi karya seni rupa yang berbentuk instalasi, lukisan, patung, dan keramik. Namun ia hanya menampilkan sekitar 120 lukisan karena keterbatasan galeri.

Dari jumlah tersebut, karya-karya lima maestro pelukis Indonesia, Affandi, S Sudjojono, Hendra Gunawan, H Widayat, dan S Soedibio, dan sejumlah karya seniman modern dan kontemporer lainnya terpajang rapih.

"Semua koleksi telah saya kumpulkan sejak 1965 hingga sekarang. Lima maestro masih menjadi suguhan yang ditonjolkan di museum seni ini," ujar Pak Oei panggilan akrab dr OHD.

Wali Kota Magelang, dalam sambutannya di hadapan ribuan tamu undangan pada grand opening tersebut mengatakan, museum OHD merupakan aset yang bukan hanya milik Magelang saja, namun juga Indonesia dan dunia.

“Aset ini bukan hanya dimiliki Magelang tapi Indonesia dan dunia. Saya berharap nantinya dapat memberikan kesejahteraan masyarakat sekitar. Juga harapannya dengan adanya museum ini menjadikan Kota Magelang sebagai kota budaya sesuai harapan pak OHD,” kata Sigit.



Dalam kesempatan tersebut, Manajer Eksekutif Kepustakaan Populer  Gramedia (KPG) dari Kelompok Kompas Gramedia (KKG) Chandra Gautama juga menyerahkan secara simbolis dua buku yang ditulis oleh dr Oei Hing Djien berjudul Arts and Collecting Art, dan Five Maestros of Modern Indonesian Art. Buku tersebut berisi tentang pengetahuan tentang seni dan penghargaan kepada seniman-seniman Indonesia.(had)
Baca Selanjutnya
gravatar

Pengamen Alun-alun Magelang Ditata

MAGELANG, TRIBUN - Petikan gitar, kentrung, dan suara kendang dipadukan dengan berbagai alat musik lainnya yang dimainkan musikus jalanan atau pengamen terdengar jelas di sekitaran alun-alun Kota Magelang sebelah utara. Dari alunan musik, lagu dan ditambah satu orang yang nampak asik berjoget terlihat bahwa mereka sedang memainkan jenis musik Dangdut.

Mereka yang biasanya bernyanyi di hadapan para penikmat kuliner di tenda-tenda di sekitaran alun-alun tersebut, oleh Pemerintah Kota Magelang dilakukan penataan dan pembinaan. Mereka tak lagi mendendangkan musik dengan berkeliling, namun teah ditempatkan pada panggung sederhana dengan
tenda ukuran lima kali lima meter. Panggung tersebut disediakan khusus bagi pengamen tersebut untuk menyampaikan bakat musiknya.

Ini merupakan salah satu uji coba rencana Pemkot Magelang untuk melakukan penataan PKL khususnya yang berada di alun-alun. Selain melokalisir PKL dan menyeragamkan dengan memberikan tenda, pengamen yang berada di sana pun ikut dibina.

Rabu (4/4) kemarin, mereka sedang menjajal fasilitas baru tersebut. Selain itu, ini merupakan bagian dari upaya pemkot untuk melakukan pembinaan dan peningkatan skill para pengamen dengan memberikan pelatihan selama tiga hari sejak Senin (2/3) lalu. Setelah mendapat berbagai materi dihari pertama, dua hari berikutnya mereka diajak untuk praktek dengan unjuk kebolehan memamerkan kemampuan dengan alat musik baru dan seragam baru berupa rompi batik yang diberikan pemkot.

Koordinator kelompok Seniman Kreatif Super (Seniper), Vatri (21) yang juga warga Jaranan, Rejowinangun Utara,  mengatakan, dengan dilakukannya pengaturan pengamen ini justeru terlihat nampak rapi dan tidak perlu mengeluarkan tenaga untuk berkeliling ke meja-meja PKL. Selain itu, saat bermain musik dan menyanyikan lagu juga merasa puas, sementara pengunjung tidak merasa terganggu.

“Kita merasa kreatifitasnya diwadahi. Dan senang sekali bsia diwadahi seperti ini. Selain itu keamanan juga terjamin oleh pemerintah. Kalau sebelumnya kan kita selalu kucing-kucingan dengan Satpol PP kalau ada operasi. Gitar kita disita kalau tertangkap. Kalau sekarang kan ga lagi,” ungkap Vatri.

Kelompoknya yang diberinama Seniper ini, mampu memainkan ratusan lagu dari semua jenis, baik pop maupun dangdut. Bahkan juga mampu mengolaborasikan dari pop menjadi irama dangdut.

Pada pelatihan atau pembinaan ini, dikuti sekitar 30 orang peserta. Mereka diberikan materi dasar berupa motivasi perilaku komunikasi yang baik, wawasan kebangsaan, ketertiban, keindahan, kreatifitas dalam seni dan entertaimen, mental, disiplin dan lain-lain. Mereka praktik di lapangan (alun-alun) dari tanggal 3-4 April 2012.

Kepala Disporabudpar, Edi Wahjanto mengatakan, pelatihan tersebut sebagai bagian dari pembinaan untuk para pengamen. Karena hingga hari ini masyarakat masih ada yang beranggapan bahwa pekerja seni tersebut kurang baik. “Ini juga bagian dari pembianaan. Tapi lebih ke pembekalan-pembekalan. Harapanyaa wawasan mereka jadi lebih terbuka,” katanya.

Wakil Satgas PKL, Hartoko mengatakan, para pengamen ini juga difasilitasi alat musik dan soundsystem, dan seragam. Jadi selain musiknya enak didengar, penampilan mereka juga elegan. Selain itu, nantinya ada 20 orang pengamen yang akan di tempatkan di kawasan alun-alun dan akan ditempatkan pada dua tenda. Dari jumlah tersebut, nantinya akan dibagi menjadi empat grup dan akan dibagi dibagi dalam dua shift. Empat grup tersebut, dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok yang membawakan musik dangdut dan campur sari, dan kelompok lainnya akan membawakan lagu reggae dan pop.

"Masing-masing kelompok terdiri dari dua grup. Pembagian ini berdasarkan selera bermusik mereka," tandasnya.

Setelah menjalani pelatihan selama tiga hari, lanjut Hartoko, mereka akan langsung diterjunkan dan bisa menghibur masyarakat. Namun pihaknya akan terus melakukan pendampingan. Rencananya, pihaknya akan terus memberikan pelatihan dua kali seminggu.

"Itu untuk mengasah kemampuan bermusik mereka, nanti kita akan koordinasikan dengan pihak terkait," katanya.

Kemudian untuk pengumpulan uang yang diberikan oleh pengunjung, untuk sementara Pemkot menyediakan kotak khusus sebanyak 10 kotak yang ditempatkan di beberapa titik yang ada di sekitaran tenda PKL, termasuk beberapa kotak ditempatkan di dekat panggung. Namun, untuk metode pembagian uang tersebut, pihaknya masih melakukan pengkajian, karena saat ini masih dalam rangka uji coba.(had)
Baca Selanjutnya
gravatar

39 Klenteng di Pulau Jawa Ikuti Ruwat Bumi



MAGELANG, TRIBUN - Ribuan umat Tri Dharma dari 39 Kelenteng berbagai kota di Pulau Jawa sejak Minggu (18/3) pagi telah memadati sekitaran alun-alun Kota Magelang. Kedatangan mereka adalah untuk mengikuti kirab budaya dan ruwat bumi 2012 Kongco Hok Tek Tjing Sin (Dewa Bumi) di kota gethuk ini.

Acara ruwat bumi diawali dengan ritual mulai pukul 06.00 WIB di Klenteng Liong Hok Bio Kota Magelang, kemudian dari masing-masing daerah mengeluarkan kongco (patung dewa) yang mereka bawa. Kongco tersebut kemudian dipersiapkan di atas Kio Hok Tik Tjing Sien atau tandu besar seberat 150 kilogram, terbuat dari tatahan dan balutan emas pada seluruh detailnya.

“Kio Hok Tik Tjing Sien merupakan sumbangan dari masyarakat Tionghoa Magelang. Biaya pembuatannya hampir Rp 200 juta,” ungkap Ketua Yayasan Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Liong Hok Bio Magelang, Paul Candra Wesi Aji atau AW.

Selain itu, juga ada Kio Hian Thian Sian Te (Dewa Pengobatan) dan Kio Hao Liang Hong (penjaga), semuanya dipersiapkan di sebelah timur alun-alun Magelang.

Kirab dimulai sekitar pukul 10.00 diawali dari halaman Klenteng diiringi dengan musik genderang serta iringan musik tradisional. Karena bukan hanya kesenian khas tionghoa yang tampil seperti barongsai, dan ular naga sepanjang 100 meter, namun kesenian tradisional berupa topeng ireng dan kuda lumping, warok, juga mengikuti kirab budaya ini.

Rute kirab yang dilalui adalah dari kelenteng Liong Hok Bio Magelang berbelok ke Jalan Pemuda, Jalan Tidar, Jalan Tentara Pelajar berbelok  ke Jalan Pajajaran, Jalan Jenggolo, Jalan Daha, kembali ke Jalan Tentara Pelajar dan menuju alun-alun. Dari sana kirab menuju Jalan Yos Sudarso, Jalan Veteran, Jalan A Yani dan kembali ke klenteng.

Iringan-iringan dengan panjang sekitar tiga kilometer tersebut mengambil pada barisan paling depan terdapat marching band, yang diikuti kesenian tradisional Warok Bocah dari Pakis Kabupaten Magelang. Sedangkan di barisan inti, mengambil posisi paling depan yaitu puluhan perempuan cantik yang berdandan ala perempuan Cina jaman dahulu sambil membawa lampion, barisan tersebut dipercaya masyarakat Tionghoa sebagai pembawa penerangan. Kemudian disusul di belakangnya iring-iringan Kio, Liong dan patung kertas yang dipercaya masyarakat Tionghoa sebagai dewa dalam ukuran raksasa.

Ada 45 Kio yang diarak dalam iring-iringan tersebut, empat diantaranya merupakan Kio dari Kelenteng Liong Hok Bio Kota Magelang, sedangkan sisanya berasal dari 38 Kelenteng yang ada di beberapa daerah termasuk dari salah satunya dari Banyuwangi, Jawa Timur.

Rombongan di pisahkan berdasarkan daerah mereka, berat dari Kio tersebut pun beragam, dari hanya yang puluhan sampai ratusan kilogram.Tak jarang perempuan pun ikut ambil bagian dan memanggul Kio tersebut, sembari memanggul, disepanjang jalan mereka berjoget mengikuti irama musik yang biasa digunakan untuk mengiringi barongsai.

"Ada kepercayaan orang yang ikut memanggul Kio akan mendapatkan keberuntungan, jadi tidak heran jika berebut," kata Paul.

Ribuan masyarakat tampak menyaksikan arak-arakan di sepanjang jalan yang dilalui kirab tersebut. Paul mengungkapkan, kegiatan ini merupakan agenda lima tahunan sebagai ungkapan rasa syukur atas ketenteraman hidup bersama masyarakat.

“Umat Tionghoa berkeyakinan dengan kirab bersama-sama disertai hati yang tulus, Dewa Bumi akan memberikan berkah pada seluruh negeri,” katanya.

Rangkaian kegiatan ini, telah dimulai sejak Sabtu (17/3) malam dengan pertunjukkan wayang kulit oleh Ki Dalang Warseno Slank dengan lakon Semar Mbangun Jiwa, di halaman Mapolres Magelang Kota.

Penasihat Yayasan Tri Bhakti Magelang David Hermanjaya, mengatakan, kegiatan kirab ini diikuti umat dari 38 kota di Jawa, antara lain Jakarta, Yogyakarta, Pekalongan, Blora, Bojonegoro, dan Banyuwangi.

"Tujuan rawat bumi, untuk berdoa menyejahterakan lingkungan, masyarakat baik pejabat maupun umat supaya hidup lebih sejahtera, rukun,  sehat, makmur, dan tidak banyak masalah," katanya.

Selain itu, lanjut pemilik New Armada Group ini, kegiatan ruwat bumi juga bisa menjadi agenda wisata Kota Magelang sekaligus memeriahkan HUT Kota Magelang ke-1106 tahun 2012.

“Melalui acara ini kita ingin bersyukur karena memperoleh banyak kenikmatan, rejeki, kesehatan diwaktu-waktu lalu. Sembari berdoa, agar ditahun-tahun mendatang, kenikmatan dan kesejahteraan terus melingkupi kita semua,” jelasnya.

Menurut David, ruwatan dan khaulan ala Tionghoa tersebut tidak hanya bagi umatnya saja. Melainkan bagi semua masyarakat Indonesia, terutama warga Magelang. “Doa kemakmuran dan kesejahteraan kita panjatkan untuk seluruh masyarakat Indonesia, terutama warga Magelang. Agar semua diberi kesehatan, rejeki dan dijauhkan dari bencana serta malapetaka,” harapnya.

Wali Kota Magelang, Sigit Widyonindito yang hadir dalam kirab tersebut mengatakan, kegiatan ini harus dilestarikan dalam rangka menyatukan warga dengan tidak membedakan suku, agama, dan golongan.

"Kami berharap kegiatan ini bisa menjadi agenda rutin tahunan sehingga Magelang menjadi lebih ramai," katanya.(had)
Baca Selanjutnya
gravatar

Jupe Kecewa Clift Tidak Konsisten

MAGELANG, TRIBUN – Julia Peres (Jupe) harus kecewa, karena niatan untuk memperoleh gelar titisan Suzana setelah melakukan ritual yang diajukan oleh mantan suami mendiang Suzana, yakni Clift Sangra, ternyata tidak sesuai kesepakatan awal.

Jupe datang di Kota Magelang pada Sabtu (11/2/2012) pukul 15.00, tepatnya di rumah warisan Suzana yang kini ditempati Clift Sangra bersama istrinya, Nana Mahliana, di Kebondalem, Potrobangsan , Kecamatan Magelang Utara, Kota Magelang. Kedatangannya untuk memenuhi persyaratan ritual terakhir, yakni mandi air dari tujuh sumber yang sakral, ternyata oleh Clift hanya disiapkan tempat mandi khusus di rumahnya.

Mengetahui hal itu, Jupe yang baru saja datang dari Jakarta melalui Bandara Adi Sutjipto Yogyakarta, terlihat kecewa.

“Saya bener-bener kecewa deh kali ini, seharusnya mandi di tempat-tempat Wali (tempat sakral), tapi ternyata di rumah Clift,” ujar Jupe kepada seseorang bernama Guntur melalui handphone di teras rumah Clift.

“Pokoknya harus mencari tempat lain yang sakral sekarang juga, di mana saja, yang penting view nya bagus dan seram,” imbuhnya.

Sebelumnya, Clift telah menyiapkan air dari tujuh sumber yang akan digunakan untuk mandi Jupe di teras rumahnya. Bahkan, Clift juga telah menyiapkan satu kursi dan wadah yang khusus menampung air untuk memandikan Jupe. Sedangkan di bagian lantai, telah ditabur bunga mawar merah.

Menurut Clift, air tersebut telah ia ambil dari tujuh sumber mata air yang cukup disakralkan, antaralain dari sumber mata air Jumprit di Temanggung, sumber mata air Baturaden di Purwokerto, sumber mata air Gunung Merbabu, air dari Curug Sewu di Kendal, dan Sendang Kantil, Sendang Mawar, Goa Semar dari Kebumen.

Raut wajah Jupe nampak jelas kecewa. Ia kemudian meminta pertimbangan dari ahli spiritual, yaitu Waribi. Atas saran Waribi, akhirnya ritual mandi di sumber mata air yang sakral dipindahkan di Keraton Yogyakarta sore itu juga.

Sementara itu, Clift Sangra saat dimintai keterangan atas hal tersebut terlihat kebingunga. Ia menyatakan, bahwa Jupe meminta untuk mandi di sumber mata air Jumprit. Tapi karena keterbatasan waktu dan medan menuju lokasi cukup jauh, dan scedule yang cukup padat, maka tidak masalah dialihkan ke sumber air lain.

“Saya ngikut saja mau di Jumprit atau di mana ga apa-apa. Istilahnya ini hanya penobatan sebagai titisan Suzana. Yang penting sudah disediakan,” katanya.

Ia mengatakan, ritual mandi tersebut merupakan ritual terakhir dari sembilan ritual yang sudah dilakukan oleh Jupe untuk memperoleh gelar titisan Suzana. Tujuannya adalah untuk menetralisir hal-hal yang baik dalam diri kekasih Gaston ini.

Sebelumnya, Clift telah mengajukan sembilan syarat, yang antaralain pertama memakan bunga melati, kedua menggelar ritual di parang tritis dengan memakai baju hijau daun, ketiga melakukan ritual kungkum (berendam) di pelabuhan ratu, keempat memegang ular, kelima mandi selama tujuh hari berturut-turut pada jam 00.00, keenam memakan makanan yang hanya menggantung di atas pohon dan tingginya melebihi badan manusia seperti pisang serta air yang diminum harus air kelapa selama sembilan hari.

Kemudian ketujuh, ngrowot (hanya makan sayuran), kedelapan tidak malakukan hubungan sex selama menjalankan seluruh rangkaian ritual, dan terakhir mandi di tujuh sumber mata air yanng disakralkan.

“Ga apa-apa ga dilaksanakan di sini (rumahnya), kalau Cuma mandi ga masalah. Ini kan ritual pengukuhan saja. Itu karena pertimbangan waktu. Sebenarnya kalau dilakukan paling hanya 15 menit selesai tapi mintanya di tempat bagus yang lebih seram,” kata Clift.(had)
Baca Selanjutnya
gravatar

Magelang Butuh Wisata Ekslusif


MAGELANG, TRIBUN – Minimnya obyek wisata di Kota Magelang yang memiliki standar keamanan, kenyamanan, dan nuansa berbeda, membuat sejumlah pelaku usaha di bidang perhotelan di Kota Magelang hingga kini masih kebingungan untuk memenuhi permintaan para wisatawan baik wisman (wisatawan mancanegara) maupun wisnus (wisatawan nusantara) yang singgah di Kota Magelang.

Hal itu diungkapkan oleh Ketua Perhimpunan Hotel & Restoran Indonesia (PHRI), Kota Magelang, Edy Hamdani, Jumat (10/2). Edy mengatakan, walaupun Kota Magelang adalah kota kecil, sebenarnya banyak potensi wisata yang apabila dikelola dengan serius akan mampu menarik wisatawan. Antaralain wisata kuliner, wisata Kota Tua, wisata sejarah (museum), dan lain-lain.

“Sebenarnya pusat kuliner di Magelang cukup banyak yang bisa dikembangkan, maka memang perlu dilokalisir sehingga apabila ada tamu dari luar daerah bisa mudah mencari kuliner-kuliner khas Magelang,” katanya.

Selain kuliner, lanjutnya, terdapat wisata kota lama. “Pernah ada tamu di tempat saya (Hotel Wisata), minta diantarkan ke kawasan pasar tradisional. Dia sehari penuh hanya muter-muter di pasar itu. Kareana kebetulan dia adalah aslinya orang Magelang kemudian tinggal lama di luar daerah, jadi ingin bernostalgia,” ujar Edy.

Edy mengatakan, keberadaan Gunung Tidar yang merupakan satu-satunya gunung di Indonesia yang ada di tengah kota yaitu di Kota Magelang, seharusnya memberikan peluang pengembangan wisata yang luar biasa.

“Gunung Tidar kalau dikelola baik, itu menjadi sangat luar biasa. Karena selain wisata ziarah, juga bisa digunakan untuk wisata ekslusif, sehingga kebersihannya terjaga. Mungkin di puncak bisa ditambah fasilitas lebih. Tapi tentunya semua tergantung kejelian pemerintah dan keterbukaan masyarakatnya,” katanya.

Menurutnya, potensi wisata ekslusif Gunung Tidar tersebut merupakan salah satu bentuk ide dari para pelaku usaha di bidang pariwisata. Tentunya, kata Edy, semuanya akan mampu meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) dan masyarakat Kota Magelang sendiri.

Asisten Manager Hotel Puri Asri, Jimmy Sastro Wijoyo, mengatakan, selama ini, tamu yang menginap di hotelnya rata-rata hanyalah pengunjung Candi Borobudur dan Pawon. Hingga kini, pihaknya juga mengaku kebingungan untuk mengantarkan tamu-tamunya.

“Kalau memang ada wisata bagus di Kota Magelang, seharusnya pemerintah harus gencar melakukan promosi. Selama ini sepertinya pemerintah masih kurang promosi, jadi memang kita masih bingung lari ke mana,” ungkap Jimmy.

Jimmy juga mengatakan, selama ini, memang banyak tamu yang menginap di Puri Asri, kemudian tertarik keliling wilayah Kota Magelang terutama sekitar Kota Tua. Namun, inisiatif tersebut merupakan kreatifitas pihak hotel sendiri, tanpa ada informasi yang diperoleh dari pemerintah. Berbeda dengan pengelolaan wisata seperti di kota Semarang dan Yogyakarta yang benar-benar ada perhatian khusus.

Menurutnya, keberadaan Gunung Tidar merupakan potensi yang berbeda dengan tempat-tempat lainnya karena lokasinya berada di tengah kota.

“Seandainya itu dijadikan tempat wisata khusus, memang sangat bagus sekali. Tapi juga harus ada kerjasama antara pemerintah dan pihak travel agent yang serius, agar Magelang benar-benar hidup wisatanya,” katanya.(had)

Baca Selanjutnya